background

Sejarah

Fatimah binti Maimun; Jejak Islam tertua yang Terlupakan

Azam Najib 04 Apr 2020

Image

Dalam setiap sesi pembahasan tentang Islam awal di Indonesia, nama Fatimah binti Maimun sering disebut sebagai satu- satunya bukti arkeologis Islam tertua yang pernah ditemukan.  Pada nisan makam Fatimah binti Maimun yang terletak di Leran Gresik, tertulis inskripsi dalam huruf arab dengan bentuk khat Kufi bertulis nama dan angka tahun 475 H yang dideskripsikan oleh M. Yamin sebagai tahun 1082 M. Nisan ini sekarang disimpan di musium Trowulan Mojokerto.

Meskipun tertua, namun pamornya seolah kalah dengan situs makam penyebar islam yang lain seperti walisongo yang banyak diziarahi orang setiap harinya. Padahal jarak masa  mereka terbentang sepanjang 200 tahun. Jika kekeramatan juga bisa ditandai dari ketuaannya, semestinya, makam Fatimah ini bisa lebih ramai pengunjung. Namun hal itu tidak terjadi di sini. Menurut penduduk setempat, biasanya orang berziarah ke sini hanya di hari atau bulan tertentu dan di atas tengah malam. Kebanyakan dari mereka ke sini untuk riyadloh. 

Saat saya ziarah ke sana, tak ada satupun pengunjung kecuali kami. Ada 1 rombongan kecil berjumlah 5 orang datang saat kami hendak pergi. Sudah lama sebenarnya saya berniat ke sini. Tapi bayangan betapa tak terjangkaunya tempat ini membuat saya selalu urung datang. Padahal dulu hampir setiap tahun saya menjelajahi makam walisongo. Namun rasa ingin tahu yang tak mudah dibendung, bahkan oleh keterbatasan fisik saat ini, tak menyurutkan niat untuk bisa ziarah. Sarkub? Iyalah..

Alhamdulillah, semua dimudahkan Allah SWT. Ternyata dugaan saya selama ini salah. Begitu keluar tol Manyar, sekitar 1 km kemudian, tahu- tahu sudah sampai lokasi. 

Dari cerita kiai Ma'mun Zein sebagaimana diyakini masyarakat setempat,  tempat ini memang sengaja diselubungi dan dilindungi oleh aura para auliya tanah Jawa untuk menjaga kekeramatannya. Konon di makam ini terdapat mirah delima yang dijaga oleh ular naga besar yang melingkari dusun Langgar Wetan,  dimana batas makam ini berada.  Kepala dan ekor ular naga itu saling bertemu di area pemakaman Fatimah. Mirip kisah naga Baruklinting.

Hingga kini, kemunculan ular (bukan naga) masih sering dijumpai. Mungkin lebih dikarenakan pada wilayah yang dikelilingi rerimbunan dan belukar serta pohon-pohon besar yang berusia tua. Sebagai cagar budaya, lokasi makam ini agak tertutup dari tempat umum, sehingga heritage nya terjaga. Selain makam Fatimah, di area ini terdapat deretan makam tua, batu yoni di pintu masuk dan beberapa makam tua sepanjang 5-7 meter. Dua makam panjang terdapat di sepanjang jalan masuk dan 3 yang lain ada di cungkup sebelah bangunan makam Fatimah. 

Fatimah binti Maimun sendiri konon adalah salah satu keluarga pendakwah dari Persia yang singgah di Aceh dan melabuhkan kapalnya di ujung timur pulau jawa. Sekitar wilayah gresik atau pantura. Konon kapalnya  berlabuh di wilayah barat dusun Leran yang kini dikenal dengan dusun Kedung desa Leran. Sebagai keluarga pendakwah, untuk melancarkan dakwahnya,  Fatimah bahkan tak segan melamar raja Majapahit, Brawijaya, yang berkuasa saat itu. Informasi ini bisa diperdebatkan, karena saat Fatimah hidup belum muncul kerajaan Majapahit. Kerajaan yang hidup di masa itu adalah Kahuripan periode akhir atau awal kerajaan Kediri berdasarkan prasasti Pamwatan berangka tahun 1042 yang dibuat raja Airlangga. Walaupun lamarannya ditolak sang raja,  gambaran ketangguhan seorang Fatimah sulit dipungkiri. Sayangnya, ia meninggal saat masih muda, sekitar 18 tahun.

Kisah hidupnya agak sulit dicari sumbernya, tapi berdasarkan folklore yang berkembang di masyarakat sekitar, lokasi makam Fatimah merupakan pathok Utara (Lor/ler) pulau Jawa yang berfungsi untuk  menyeimbangkan pulau jawa dari kekuatan Nyi Roro Kidul di pathok Jawa bagian Selatan. Tempat ini juga dianggap menjadi batas aman semua tindak kejahatan di wilayah timur. Seperti saat ada ninja di Banyuwangi, konon begitu mendekati tempat ini, kejahatan tersebut mereda bahkan berhenti.

Dari cerita kiai Ma'mun, tersebutlah nama mbah Aqib,  masyarakat dusun Leran pada masa pendudukan Belanda yang telah merawat makam ini dengan kesadarannya sendiri. Belanda, yang sangat memperhatikan peninggalan budaya memberikan penghargaan kepada mbah Aqib dengan menerbitkan beslit tanah pardikan atau E gendom yang luas. Sedangkan peneliti Belanda yang membaca inskripsi pertamanya bernama JP Moquette pada tahun 1911. 

Pada saat pertama ditemukan kondisi makam sudah hampir ambruk tapi masih menampakkan bentuk aslinya. Perbaikan dilakukan dengan menggunakan batu putih yang terdapat di sekitar Suci Manyar. Hingga kini masyarakat di wilayah ini secara tidak langsung ikut menjaga dan merawat makam. Beberapa kali masyarakat Leran menyelenggarakan haul Fatimah, tapi setelah ramai,  mbah Aqib ditemui Fatimah yang menangis karena enggan di hauli. Akhirnya beliau mengalihkan perhatian masyarakat dengan mengganti waktu haul dengan waktu lain yang terus berlainan tanpa ada pemberitahuan. Sehingga lambat laun masyarakat yang datang dari jauh sering salah waktu (kecele). Setelah sepi pendatang, akhirnya haul ditiadakan. 

Gus Dur adalah orang yang sering mengunjungi makam Fatimah binti Maimun dan menemui mbah Aqib. Beliau bilang bahwa nama asli Fatimah adalah Maimunah. Tarekatnya bernama Maimuniyyah. Saat kami datang, penjaga makam memberikan kami kunci masuk ke area makam,  dan berpesan agar setelah selesai,  dikembalikan ke tempatnya. 

Di dalam cungkup  makam  ada 4 makam yang berjejer. Selain makam Fatimah, 3 lainnya merupakan makam para dayangnya  Bangunan makam ini berbentuk seperti candi dengan ujung atas menyempit membentuk . Mirip reruntuhan Chichen Itza, peninggalan kuno suku Maya di Mexico. Sejak  ditemukan memang seperti itu bentuknya. Sebelum era orba,  bangunan masih berupa reruntuhan yang tak sempurna. 

Tahun 1973,  Presiden Suharto waktu itu memerintahkan untuk memperbaikinya.  Saat itu,  pak Harto punya misi untuk mencari benda sakti di seluruh pulau Jawa. Dia juga mendengar tentang mirah delima itu. Meskipun orang  suruhannya gagal mendapatkan benda yang dimaksud, tapi tempat ini tetap diperbaiki. Hingga kini, konon tak ada satupun orang yang bisa menemukan mirah delima tersebut. Tempat ini nampak indah saat sepi pengunjung. Seperti masuk dalam reruntuhan kuno. Sejuk dan purba. Semoga seandainya nanti bakal ramai, tidak akan menghilangkan suasana alaminya. Dan makam Fatimah tetap terjaga situsnya.

Kami disuguhi jamuan langka kuliner Gresik di rumah yai Ma'mun. Seekor ikan seperti lele tapi lebih besar ukurannya. Namanya ikan sembilang. Biasa dimasak kuah kuning,  atau kelan kuning. Rasanya lezat dan empuk. Kuliner ini jarang dijumpai, bahkan di Gresik sendiri. Keberadaannya semakin langka akibat perubahan lingkungan yang diakibatkan munculnya pabrik semen dan industri lain membuat habitat ikan ini terdesak.

Selamat berkunjung !  (Nidaussa'adah)